Post Page Advertisement [Top]

Kutitipkan Pesanku Untukmu

Kutitipkan pesan syukurku,
Melalui sajak ini.
Untukmu,
Di hari yang selalu kau nanti.

Kutitipkan rasa sukacitaku kepada yang Esa,
Melalui goresan tinta.

Sederhana,
Namun setiap kata terasa bermakna.

Kutitipkan pesan itu kepada merpati.
Kubiarkan ia terbang;
Melwati samudera yang luas
Agar sayap indahnya semakin kuat;
Dan senantiasa ingat,
Di mana ia harus mendarat.

Telah kutitipkan semua itu;
Untukmu,
Yang kabarmu selalu kutunggu,
Risa.

"Terima kasih banyak. Kamu yang pertama, selalu."
Balasan pesanku,
Olehmu,
Di malam itu.

(Sumbawa Besar, 7 Juni 2024)
Baca Selengkapnya >>

Izinkan Aku

Izinkan aku melukiskan dirimu,

di antara lautan sajak dan alam pikiranku


Izinkan aku memelukmu,

di dalam bayangan nan penuh tanda tanya


Tapi tunggu dulu;

biarkan aku terlelap,

di antara bintang-bintang

nun jauh di dalam sunyi alam ilusi


Izinkan aku menari denganmu;

walau di gelap sepi,

kau abadi.

(Sumbawa, 2024.)

Baca Selengkapnya >>

Widyaiswara dan Adiwidia

      



     Halo! Apa kabar? Saya harap anda baik-baik saja. Pada kesempatan kali ini saya hendak mempublikasi puisi buatan saya untuk hari guru nasional tanggal 25 November 2022 nanti. Puisi ini berjudul "Widyaiswara dan Adiwidia" yang akan saya persembahkan kepada guru-guru saya yang telah memberikan ilmunya yang sangat bermanfaat bagi saya. Saya mengambil judul puisi ini bukan tanpa sebab, karena judul puisi ini memiliki makna tersendiri. Yakni terdiri dari kata "Widyaiswara" yang berarti guru, dan "Adiwidia" yang berarti pengetahuan yang paling tinggi. Dapat disimpulkan, bahwa arti dari "Widyaiswara dan Adiwidia" ini adalah guru merupakan sumber dari segala ilmu pengetahuan bahkan pengetahuan yang paling tinggi sekalipun. Berikut adalah penggalan puisinya.


Widyaiswara dan Adiwidia

Karya: I Gusti Bagus Anom


Guruku...
Kaulah insan pemancar sinar
Membuat kami menjadi pintar
Dengan ilmu yang kau tebar.

Kau menuntun kami
Dari tak tahu menjadi tahu
Menjadikan kami insan yang bestari
Agar hidup menjadi lebih rahayu.

Guruku...
Kau bersahabat dengan dinginnya fajar
Walau keriput tampak di wajahmu
Kau masih bersemangat untuk mengajar.

Maafkan kami jika selalu membuatmu nestapa
Maafkan kami jika selalu membuatmu marah
Jiwamu bagaikan bahtera
Yang selalu bertahan menghadapi amukan laut yang merekah.

Guruku...
Dirimu kan selalu kukenang
Kenangan yang akan abadi
Di dalam jiwa dan sanubari.


Baca Selengkapnya >>

Senja di Tanah Sumbawa: Cerpen Karya I Gusti Bagus Anom


     Senja di Tanah Sumbawa

Karya: I Gusti Bagus Anom


    Kududuk di tepi pantai bersama kawanku, untuk memandang hamparan pasir dan lautan. Kulayangkan pandanganku ke ujung cakrawala, memandang mentari yang akan tenggelam sembari diterpa siliran angin yang menambah ketenanganku. Itu menjadi hari terakhirku bersama kawanku, Amir. Amir tak kunjung meninggalkanku di hari terakhir sebelum Ia pergi, yang menjadi saat terakhirku berjumpa  dengannya sebelum Ia pergi menimba ilmu di Denpasar untuk melanjutkan pendidikannya mendalami ilmu sastra.

     “Ini terakhir kalinya kita bertemu sebelum kamu meninggalkan tanah Sumbawa untuk menimba ilmu di Denpasar, Mir. Suasana ini akan selalu kurindukan,” ucapku dengan rasa sedih.

     “Aku juga akan merindukan hal ini. Aku takkan melupakanmu, Bagus,” sambung Amir dengan senyuman. Aku menghela nafas, menahan air mata yang hendak membasahi pipiku.

     Sebelum senja itu berakhir, aku memberinya hadiah novel karya penulis idolanya yang belum pernah Ia baca.

     “Ini untukmu, Mir. Dibaca ya, semoga kamu masih bisa mengingatku setelah kita berpisah nanti disaat kamu membaca buku ini,” aku memberikan buku itu kepadanya, air mataku menetes tepat di atas buku itu, tak rela aku melepaskan dirinya, tapi ini sudah menjadi jalannya.

     “Terima kasih, Gus. Aku akan membaca novel ini sampai kisahnya berakhir, tetapi kisah kita janganlah berkesudahan,” aku dan Amir beranjak dari pantai dan kembali ke rumah masing-masing. Aku bersalaman dengannya sebagai ucapan selamat tinggal.

     “Jangan lupa untuk memberitahu kabarmu disana, ya!” Ucapku dengan senyum.

     Jam weker mengucapkan selamat pagi, pertanda Ia telah pergi. Kita sudah memiliki jalannya sendiri, yang tersisa hanyalah potret kebersamaan kami berdua semasa sekolah.

     “Dia apa kabar ya?” Pertanyaan yang selalu terbesit di benakku dikala termenung.

     Tahun demi tahun  telah kulewati. Pada akhirnya Ia mengirimkanku surat berisi potretnya bersama istri serta anak-anaknya. Di dalam surat itu Ia berkata “Hai, Bagus! Aku di Denpasar baik-baik saja. Bagaimana dengan kabarmu? Ini istri dan anak-anakku. Aku akan pindah menetap kembali ke Sumbawa beberapa hari lagi untuk membesarkan anak-anakku di sana. Di sana aku akan tinggal di Kampung Rinjani dimana tempat aku dibesarkan dulu. Setelah itu aku akan mengunjungimu untuk mengobrol bersama.”

     Aku tersenyum bahagia, karena dapat melihat sahabatku lagi yang telah lama berpisah. Hari demi hari selalu kutunggu kehadirannya, namun tak kunjung datang. Suatu hari, datanglah seseorang pria gagah yang mengetuk pintu rumahku. Aku tak mengenal siapa dirinya, karena wajahnya tampak asing.

     “Maaf pak, ada apa ya?” Tanyaku.

     “Loh, gus? Kamu ga kenal aku? Ini aku Aris, kawan SMA mu dulu,” Sambung pria misterius itu. Ternyata Ia adalah Amir, kawanku semasa SMA dulu. Aku tak sangka Ia telah berubah, sampai-sampai aku tidak mengenalinya.

     “AMIR? Waduh maaf aku ndak tanda mukamu. Kamu tampak gagah sekarang, Mir. Mari masuk, silahkan duduk. Tunggu aku bikinin teh,” aku kaget karena itu Amir, kawan lamaku karena penampilannya banyak sekali perubahan. Aku menyuruhnya untuk duduk sembari menyediakan suguhan kepadanya.

      Dengan gembira aku menyambutnya, membuatkannya segelas teh dan menyuguhinya kue untuk menemani obrolan kita. Kita mengobrol santai sembari mengingat kenangan kami di masa muda.

 

~Tamat~
Baca Selengkapnya >>

Sendu Dan Rindu: Puisi Karya Bagus Anom


    


     Halo! Pada kesempatan kali ini izinkan saya untuk membagikan puisi karya saya yang berjudul "Sendu dan Rindu". Puisi ini memiliki makna tersendiri bagi orang-orang yang sedih karena ditinggal oleh orang terkasihnya. Semoga puisi ini dapat menyentuh hati para pembaca. Terima kasih!






Sendu dan Rindu

Karya: I Gusti Bagus Anom


Ribuan tetes air telah membasahi bumi

Tanah pun mengeluarkan aromanya 

Angin meniup rambutku dan mengelus setiap belainya

mengingatkanku kepada satu hal, betapa agung kuasa Tuhan


Tangisan semesta itu berakhir

Sang surya menunjukkan kegagahannya

Tak ada yang bisa menghentikannya

Karena itu kehendak yang kuasa.


Aku letih,

Aku sedih,

Menahan isak tangis

Yang hendak membasahi pipi,

leher,

Dan dadaku yang penuh sendu


Aku sempat berfikir

Mengapa ia memperdulikanku?

Akulah insan yang hina

Yang pernah hidup di dunia yang fana


Aku rindu

Mengingat kenangan masa lalu


Aku rindu

Duduk bersamanya


Aku rindu

Mengelus kepalanya


Semua tak lagi sama.


Telah kuselesaikan tugasku

Telah kulunaskan utangku

Telah kupotong semua helai

Yang pernah ia belai

Tiba saatnya aku menjauh

Dengan hati yang sangat rapuh.


Baca Selengkapnya >>

Bottom Ad [Post Page]